'Menabung' Sperma Di Usia Muda, Mendesak Atau Tidak

‘Menabung’ Sperma Di Usia Muda, Mendesak Atau Tidak?

KENCANBUTA – Fenomena berkurangnya jumlah dan kualitas sperma pria di berbagai belahan dunia mendorong wacana ‘menabung’ sperma di umur muda. Terlebih sudah banyak penelitian yang mengungkapkan sperma pria berumur lanjut juga tidak berkualitas.

Satu diantaranya diutarakan Mayo Clinic. Riset mereka membuka, keturunan dari pria berusia 40 tahun ke atas berisiko mengalami autisme, skizofrenia dan cacat lahir seperti achondroplasia. Ini karena saat sperma menua, maka juga akan berlangsung lebih banyak mutasi genetik sehingga membuahkan bayi yang berisiko cacat mulai sejak lahir.

Peneliti lain dari Institute of Reproductive Medicine, University of Munster, Jerman juga menyampaikan, pria yang lebih tua dihadapkan pada kesulitan untuk membuahkan keturunan. Sebab di usianya, motilitas atau gerakan spermanya sudah tidak demikian lincah, begitu halnya jumlah sperma yang masih normal.

situs-taruhan-sepakbola-dan-casino

situs-taruhan-sepakbola-dan-casino

Tetapi apakah itu bermakna pria muda butuh ‘menabung’ spermanya bila memanglah mereka belum merencanakan untuk menikah dalam waktu dekat? Seseorang pakar urologi dan kesehatan reproduksi dari Weill Cornell Medical College New York, Dr Harry Fisch berasumsi hal semacam itu ‘berlebihan’.

Ia mengaku bila studi mengenai resiko memiliki anak di umur lebih tua memanglah ada. Tetapi menurut dia, resiko ini termasuk ‘sangat kecil’, termasuk pada pria yang lebih tua.

Toh tidak ada data tentu yang mengungkap di umur berapakah benih atau sperma seseorang pria bisa menyebabkan masalah. ” Apakah mulai umur 40 atau 50 atau berapakah, tidak ada yang tahu, jadi tidak jelas kapan pria harus menaruh spermanya, umpamanya, ” katanya seperti dilaporkan Kencanbuta.

Walau sekian ada juga ahli yang menyampaikan ‘menabung’ sperma adalah ketentuan yang bijak. Seperti yang dikemukakan Alexey Kondrashov, pakar biologi dari University of Michigan. Dalam tulisannya di jurnal Nature, apabila memanglah memiliki keturunan di umur lebih tua akan menyebabkan permasalahan kesehatan untuk si anak, maka menaruh sperma di umur muda supaya bisa dipakai nanti adalah ketentuan yang ‘bijak’.

Cuma saja ia menyatakan ketentuan ini berbentuk perorangan. Berbeda dengan yang disibakkan pakar bioetika dari Abertay University, Skotlandia. Sebab ia menyampaikan kalau menaruh sperma di umur muda semestinya dijadikan etika sendiri, dan karena pernyataannya ini ia malah memperoleh banyak kritikan dari bebrapa rekanan sejawatnya.

Di Indonesia sendiri, kehadiran bank sperma telah memperoleh fatwa haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) mulai sejak tahun 2010 silam. Terkecuali bertentangan dengan hukum agama Islam, mendonorkan dan/atau memperjualbelikan sperma juga dikira dapat menyebabkan kekacauan asal-usul dan identitas anak.

” Membangun bank sperma juga haram, ” lebih petinggi Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI saat itu, Asrorun Niam Saleh.

Di segi lain, bank sperma di kuatirkan bisa mengakibatkan kekacauan dalam pembagian harta warisan karena bukan dari keturunan segera.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *