Bisnis Seks Kerajaan Mafia Yakuza Di Jepang

Bisnis Seks Kerajaan Mafia Yakuza Di Jepang

KENCANBUTA – Para mafia Jepang yang di kenal dengan grup Yakuza saat ini telah masuk ke Indonesia. Mereka diprediksikan melakukan pencucian uang dan jadi investor dana haram ke sejumlah perusahaan di Indonesia. Sumber pendapatan grup mafia paling popular di Jepang ini satu diantaranya adalah usaha sex.

Mereka mengoperasikan sejumlah rumah bordil, panti pijat dan produksi video porno.

“Dunia pelacuran banyak yang dikelola para Yakuza. Mereka bisa berkembang karena memanglah banyak keinginan dari kelompok pria di Jepang, ” kata Richard Susilo

Usaha sex yang dilakukan oleh grup ini cukup menguntungkan untuk mafia sekelas mereka. Karena, mereka bisa mempekerjakan para pelacur seenaknya bahkan berkesan seperti budak. Mereka tidak akan memberikan uang pada para wanita peliharaan-peliharaannya.

“Pelacuran adalah portal uang Yakuza, terkecuali judi, narkoba, dan pencucian uang, ” kata Richard.

situs taruhan sepakbola dan casino

situs taruhan sepakbola dan casino

Berikut Bisnis Seks Kerajaan Yakuza Di Jepang :

Bisnis Model Seks

Bisnis Model Seks

1. Pelacur Anak Dan Remaja

Banyak lelaki Jepang sangat suka pada anak-anak kecil yang biasa mereka sebut loli. Tarif paling murah seputar 20. 000 yen atau Rp 2 juta per jam.

Jelas pelacuran anak dan remaja tidak mematuhi hukum. Pelakunya dijerat dua pasal sekalian UU antiprostitusi dan UU kesejahteraan anak. Umur dewasa di Jepang adalah 20 tahun.

Richard ungkapkan seseorang gadis berumur 17 tahun harus melayani sekurang-kurangnya lima lelaki hidung belang yang suka pada anak kecil dan gadis remaja, sehari-harinya.

Pelacuran anak dibawah usia ini kerap disebut enjokosai. Mereka tumbuh subur bersamaan banyak penyimpangan sex di kelompok pria Jepang.

2. Ayam Universitas Ala Yakuza

Di Indonesia mahasiswi yang jual diri disebut ayam universitas. Di Jepang, banyak juga mahasiswi yang jual diri. Para bandit Yakuza dengan cerdik memakai cost kuliah dan cost hidup mahasiswi yang tinggi.

Banyak mahasiswi terlilit prostitusi karena kesulitan ekonomi. Mereka lalu berasumsi jadi PSK adalah pekerjaan profesional. Seperti bekerja kantoran saja, sehingga tidak ada rasa penyesalan.

Namun tidak selalu para mahasiswi ini selalu melayani masalah ranjang. Ada yang cuma temani tamu pria di karaoke, rekan kencan, sampai foto jenis seksi.

Sekali mengencani mahasiswi tarifnya rata-rata 20. 000 yen atau Rp 2 juta sekali kencan.

3. Pijat Plus-Plus

Mafia Jepang juga mengelola panti pijat. Seperti biasa, panti pijat ini cuma kedok untuk masuk ke session yang lebih intim, dengan kata lain pijat plus-plus.

Polisi menggerebek suatu panti pijat Miko di daerah Kanda Tokyo. Menurut penyelidikan, panti pijat itu sudah memperoleh keuntungan 100 juta yen atau Rp 10 miliar sepanjang tiga tahun terakhir.

Tarif pijat disana 11. 000 yen atau Rp 1, 1 juta untuk satu jam. Dua jam bertambah jadi 18. 000 yen atau Rp 1, 8 juta. Semakin banyak variasi, semakin mahal.

Menurut Richard, mengutip sumber di kepolisian, semakin banyak tempat seperti ini bermunculan. Mulai sejak Bulan Februari 2015, di daerah Kanda, polisi menggerebek lima tempat seperti ini.

4. Sushi Diatas Badan Wanita

Ini style jamuan tidak umum dimana makanan disajikan diatas badan wanita nirbusana. Untuk bisa layanan seperti ini, tiap-tiap orang terkena tarif 15. 000 yen atau Rp 1, 4 juta.

Style makanan seperti ini disebut nyotaimori. Hal semacam ini dilarang di Jepang, namun para Yakuza menjalankannya ditempat prostitusi yang mereka kelola.

Kelompok pimpinan Yakuza nikmati nyotaimori sembari minuman keras. Mereka juga ditemani para wanita yang siap memberikan pelayanan.

Mafia Yakuza Di Jepang

Mafia Yakuza Di Jepang

5. DVD Porno

Di Jepang, salah satu sumber dana Yakuza adalah pelacuran dan usaha DVD porno.

Dari DVD Porno saja pendapatan per bulan minimum 3 juta yen, atau seputar Rp 300 jutaan dari satu toko. Sabtu 12 April 2013, polisi menggerebek tiga orang penjual DVD porno di daerah Toshima Ikebukuro, Tokyo. Polisi mengambil alih 20. 000 piringan cakram DVD porno.

Film porno di Jepang sesungguhnya diijinkan dengan kata lain legal. Prasyaratnya, alat kelamin harus disensor atau diburamkan. Produser film harus menyensornya sendiri saat sebelum diedarkan.

Nah, Yakuza tidak ingin menyensor DVD porno. Inilah yang membedakan film mereka dengan yang legal. Mereka juga tidak kapok beroperasi walaupun sudah digerebek.
6. Live Chatting Dengan Anak Kecil

Perkembangan internet juga membuat Yakuza melirik usaha live chatting mesum. Mereka mempersiapkan jaringan internet di mana para pria hidung belang bisa mengobrol dengan gadis-gadis dibawah usia.

Awalannya hanya mengobrol, lalu bisa saja para pelanggan meminta wanita-wanita itu melepas pakaian.

Dalam enam bulan, mereka mengantongi keuntungan 220 juta yen atau Rp 22 miliar. Bila dihitung, rata-rata tiap-tiap pelanggan mengeluarkan cost seputar Rp 2, 7 juta tiap-tiap melakukan live chatting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *